Hermann Delago, Musisi Austria Pelestari Lagu Batak

"Kalian pasti tahu kan musik Batak itu kayak mana, selain melodinya asyik didengar ternyata musik batak juga mempunyai kekhasan sendiri. Sehingga orang-orang turis banyak yang tertarik dengan musik ini, contohnya di Amrik sana musik batak sering diputar dan dimainkan dibeberapa kafe, bukan cuma itu "musik batak juga telah menjadi musik internasional" yang telah di rekan di Jerman, Amerika, dan Australia".

Maka itu kita harus bangga menjadi orang batak, jangan mau jadi orang lain "DAN TETAPLAH MENCINTAI ADAT BATAK", ORANG TURIS SAJA SANGAT TERPIKAT DENGAN ADAT BATAK, MUSIK, DAN PESONA DANAU TOBA. Silakan simak berita dibawah ini yang Ringo ambil dari Toba News.

Hermann Delago, Musisi Austria Pelestari Lagu Batak - Lagu Butet telah lama dikenal sebagai salah satu lagu tradisional Batak. Lagu yang berlatar belakang perjuangan bangsa melawan penjajahan Belanda ini begitu berkesan bagi seorang Hermann Delago. Lagu pertama yang didengarnya saat berlibur di Bali pada 1995 silam yang saat itu dinyanyikan oleh seorang turis. “Saya dengar orang bule nyanyi lagu Indonesia, saya mau belajar. Saya cari teman di Bali, dia ajari lagu Butet,” kata Hermann, kepada Liputan 6 SCTV, baru-baru ini.
Melodi lagu Batak menurut musisi kenamaan Austria ini sangat indah dan mirip musik barat, bahkan lebih berkarakter. Saat kembali ke Austria, Hermann kerap membawakan lagu-lagu Batak dalam konser di sejumlah negara Eropa. Dengan fasih ia membawakan sendiri lagu-lagu Batak. “Sering nyanyi di kedai tuak. Dengar dari anak Batak, dari situ saya belajar,” ucap Hermann.
Selain menyukai melodi lagu Batak, Hermann mengaku terpesona dengan kemolekan Danau Toba dan Pulau Samosir. Bahkan, ia juga terpikat dan menyunting gadis berdarah Batak sehingga ia ditabalkan bermarga Manik. Sebagai orang yang sudah bermarga Batak, Hermann merasa terpanggil untuk melestarikan lagu-lagu Batak.
Secara tidak sengaja, Hermann bertemu dengan musisi muda Viky Sianipar di sebuah warung kopi di Tuktuk, Pulau Samosir. Menyelaraskan musik tradisional dengan musik modern yang dikenal dengan world music, membuat Hermann dan Viky berkolaborasi mengaransemen lagu Batak agar lebih populer. Wujudnya adalah album lagu bertajuk Tobatak yang direkam dan dipasarkan oleh label BSC Music Jerman.
Tanggapan positif diberikan banyak tokoh Batak yang hadir dalam peluncuran album Tobatak yang akan dipasarkan secara internasional dalam bentuk cakram padat atau CD, digital itunes, dan amazone yang akan diikuti dengan konser beberapa negara Eropa. “Tidak jauh dari penyanyi orang-orang Batak, persis syairnya juga sama, malah lebih hidup,” ujar Monaky Manalu, pencipta lagu Batak.
Sebagai musisi, Viky Sianipar merasa bangga sekaligus merupakan tamparan untuk generasi muda yang kadang melupakan musik tradisinya.
Atas perhatian yang besar terhadap pelestarian musik tradisional, para tokoh Batak pun memberikan penghargaan pada Hermann Delago. Walau tidak berdarah Indonesia, Hermann Delago telah membuktikan kecintaannya pada musik tradisi Indonesia. Hal yang harus ditiru dan diikuti generasi muda di Indonesia agar semua musik tradisional terus terpelihara dan menjadi milik bangsa.
lip.sctv

1 comment:

endrina melinda said...

mantap kawan,
memang harus diakui Dunia musik batak memiliki ciri khas tersendiri.

Followers